Kiat

Tetaplah CERIA: Sebuah Upaya Pencegahan Bunuh Diri

Bunuh diri adalah salah satu permasalahan serius di Indonesia. Data menunjukkan bahwa angka bunuh diri di Indonesia meningkat tiap tahunnya. Menurut data World Health Organization, tahun 2010 indeks kasus bunuh diri di Indonesia mencapai 1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5000 orang per tahun. Jumlah itu meningkat pada tahun 2010. Estimasinya mencapai 4.3 per 100.000 jiwa atau sekitar 10.000 per tahun (Herman, 2014). Dari data ini dapat kita lihat bahwa kasus bunuh diri di Indonesia masih belum terantisipasi dengan baik.

Tindakan bunuh diri tidak langsung terjadi begitu saja. Hal ini biasanya diawali dengan suicidal thought atau suicidal ideation, yaitu pikiran tentang keinginan mengakhiri hidup (Durand & Barlow, 2013). Orang yang mengalami tahap ini merasakan keputusasaan hidup, hingga ingin mengakhiri masalahnya dengan bunuh diri.

Banyak hal yang membuat orang ingin mengakhiri hidupnya. Pertama adalah depresi. Masalah yang begitu berat dan kurangnya dukungan sosial membuat seseorang merasa putus asa yang berujung pada depresi. Untuk mengakhiri depresi yang parah, mereka berpikiran bunuh diri adalah jalan keluarnya. Kedua adalah faktor biologis. Penelitian menunjukkan bahwa temperamen tertentu memiliki hubungan dengan kecenderungan bunuh diri (Karama, et al., 2015). Ketiga adalah faktor budaya. Konteks budaya di mana seseorang tinggal dapat meningkatkan kecenderungan bunuh diri (Cho & Haslam, 2010). Contohnya, di Gunung Kidul ada kepercayaan bahwa kemunculan pulung gantung adalah isyarat untuk melakukan bunuh diri. Orang yang melihatnya harus melakukan bunuh diri.

Untuk mengantisipasi hal itu, penulis menawarkan solusi, yaitu dengan tetaplah CERIA, yang merupakan singkatan dari cerita, berteman, bersyukur, ibadah dan olahraga. Pertama adalah cerita. Bercerita tentang apa yang kita rasakan merupakan salah satu bentuk katarsis. Kita dapat menceritakannya ke teman, atau dapat juga di buku diary. Dengan cara ini, ketegangan kita karena depresi dapat turun karena kita sudah menuangkannya dalam cerita

Yang kedua adalah berteman. Pertemanan adalah hal yang penting bagi kita karena lewat pertemanan lah kita bisa mendapatkan dukungan sosial. Studi menunjukkan bahwa hubungan pertemanan yang baik dapat menurunkan tingkat depresi (Kistner, David-Ferdon, & Repper, 2006). Oleh karena itu, untuk menjauhkan diri dari depresi, kita harus menjaga pertemanan dengan baik. Kita juga patut menghindari bullying karena hal itu dapat membuat korban mengalami depresi (Anat Brunstein Klomek, et al., 2008).

Yang ketiga adalah bersyukur. Bersyukur terbukti dapat menjaga dan meningkatkan kebahagiaan (Sheldon & Lyubomirsky, 2012). Dengan bersyukur, kita dapat menyadari betapa banyaknya nikmat yang kita terima. Selain itu, bersyukur juga membuat kita merasa berkecukupan, yang akhirnya membuat kita dapat menerima keadaan.

Yang keempat adalah ibadah. Sama halnya dengan bersyukur, beribadah juga dapat meningkatkan kebahagiaan. Berbeda dengan kesenangan lain yang bersifat sementara, kebahagiaan karena beribadah bersifat kumulatif (Mochon, Norton, & Ariely, 2008). Selain itu, beribadah juga dapat meningkatkan perasaan dekat dengan Tuhan (Myers, 2000). Dengan cara ini, depresi kita akan menurun sekaligus merasa malu bunuh diri karena teringat dengan Tuhan.

Hal yang sama juga berlaku terhadap aktivitas olahraga. Semakin tinggi frekuensi seseorang datang ke gym atau mengikuti yoga, semakin tinggi pula wellbeing-nya (Mochon, Norton, & Ariely, 2008). Berolahraga secara rutin mampu menjaga kebahagiaan kita. Dengan cara ini, stabilitas mood kita akan terjaga sehingga menurunkan kemungkinan depresi.

Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah bunuh diri, yaitu bercerita, berteman, bersyukur, beribadah, dan berolahraga. Hidup adalah karunia yang wajib kita syukuri, termasuk di dalamnya kebahagiaan dan masalah-masalah. Masalah bukan untuk dihindari, melainkan dihadapi. Bila diri mulai goyah, kuatkan tekad, dan tetaplah CERIA! [Gloria Excelcise Muhamad]

 

Referensi:

Anat Brunstein Klomek, P., Marrocco, PhD, , F., Kleinman, M., S, I., Schonfeld, I. S., & Goul, M. S. (2008). Peer Victimization, Depression, and Suicidiality in Adolescent. Suicide and Life-Threatening Behavior 38(2), 166-181.

Cho, Y.-B., & Haslam, N. (2010). Suicidal Ideation and Distress Among Immigrant Adolescents: The Role of Acculturation, Life Stress, and Social Support. J Youth Adolescence, 370-379.

Durand, V. M., & Barlow, D. H. (2013). Essential of Abnormal Psychology. 6th Edition. Canada: Jon-David Hague.
Herman. 2014.”WHO: Angka Bunuh Diri di Indonesia Capai 10.000 Per Tahun”. http://www.beritasatu.com/kesehatan/209155-who-angka-bunuh-diri-diindonesia-
capai-10000-per-tahun.html. Diakses pada 02 Oktober 2016, pukul 20.00 WIB.

Karama, E. G., LynnItani, Fayyad, J., Hantouche, E., Karam, A., Mneimneh, Z., Rihmer, Z. (2015). Temperament and suicide: A national study. Journal of Affective Disorders, 123–128.

Kistner, J. A., David-Ferdon, C. F., & Repper, K. K. (2006). Bias and Accuracy of Children’s Perceptions of Peer Acceptance: Prospective Associations with Depressive Symptoms. Journal of Abnormal Child Psychology, 349-361.

Mochon, D., Norton, M. I., & Ariely, D. (2008). Getting off the hedonic treadmill, one step at a time: The impact of regular religious practice and exercise on well-being. Journal of Economic Psychology, 632–642

Sumber Gambar:

http://www.medscape.com/viewarticle/869897

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s