event / Hardnews

Diskusi Publik 2016: Sehat Mentalmu, Sehatkan Indonesia!

Tahukah Anda, satu dari empat di antara Anda memiliki kecenderungan tidak sehat mental? Perlu diketahui bahwa tidak sehat mental berbeda dengan sakit mental. Tahukah Anda bahwa pada tahun 2030, depresi akan menjadi kontributor global burden of disease nomor dua? Tahukah Anda mental disorder adalah penyebab disabilitas terbesar dalam usia produktif?

Dalam diskusi publik yang dilaksanakan pada 7 Mei 2016 ini, diangkatlah tema “Kesehatan Mental”. Tema ini diangkat karena materi terkait kesehatan mental biasanya hanya diangkat pada saat “Hari Kesehatan Mental” saja. Dengan jargon “Sehat Mentalmu, Sehatkan Indonesia!”, BPPM Psikomedia ingin memperkenalkan terkait kesehatan mental pada masyarakat secara umum (khususnya mahasiswa) di Indonesia tidak hanya pada hari perayaannya saja tetapi setiap saat selagi bisa.

BPPM Psikomedia mengundang dua pembicara hebat yakni Fuad Hamsyah sebagai pembicara pertama serta Ratna Yunita sebagai pembicara kedua. Dalam sesi dengan pembicara pertama yang merupakan dosen di Fakultas Psikologi UGM (Fuad Hamsyah), beliau menyampaikan terkait kondisi kesehatan mental di Indonesia. Betapa miris, ternyata Indonesia merupakan negara yang minim sekali perhatian soal kesehatan mental. Hal ini dibuktikan antara lain melali beberapa tindakan yang dilakukan kepada orang-orang dengan gangguan jiwa seperti pemasungan. Selain itu, alokasi dana untuk kesehatan mental di Indonesia juga sangat kecil.

Menurut WHO, terdapat empat ciri orang yang sehat mental: (1) mengetahui potensi diri, (2) mampu melakukan coping terhadap stres sehari-hari, (3) memberikan kontribusi pada masyarakat/lingkungan sekitar, (4) produktif. Dari keempat ciri tersebut haruslah terpenuhi agar dapat digolongkan ke dalam orang yang sehat mental. Bila terdapat satu yang belum terpenuhi, dikategorikan ke dalam orang yang tidak sehat mental, tetapi belum tentu sakit mental.

Terdapat fakta dari riskendas tahun 2013 yang menunjukkan bahwa DIY merupakan daerah di Indonesia dengan jumlah penderita gangguan jiwa paling banyak. Setelah DIY, diikuti Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Beberapa peserta menyampaikan pendapatnya dengan antusias. “Mungkin karena orang di DIY suka memendam,” tutur salah seorang peserta kemudian diterima oleh Fuad. Ada pula anggapan bahwa karena DIY merupakan kota pelajar sehingga banyak mahasiswa yang mengalami stres dalam menempuh pendidikan. Jawaban tersebut cukup mengundang gelak tawa peserta diskusi.

Perbandingan antara jumlah tenaga ahli kesehatan mental serta penduduk Indonesia menunjukkan bahwa seorang tenaga ahli kesehatan mental (psikiater/psikolog/perawat/social worker) bertanggung jawab atas 200.000 jiwa penduduk Indonesia. Dapat diperkirakan dari sekarang jika permasalahan gangguan kesehatan mental seperti tidak pernah ada habisnya.

Fuad menyampaikan, untuk mencapai kesehatan mental, yang paling mudah dilakukan adalah dengan berpikir positif. Selain itu, perlunya pengaturan waktu dengan baik, menghargai/menyayangi diri sendiri, makan dan olahraga yang cukup, mencoba hal-hal baru, beristirahat yang cukup, membuat rencana, menyusun target yang realistis (jangan lupa untuk menyertai usaha-usaha untuk meraihnya), memberi hadiah pada diri sendiri, membagi kegalauan serta kekhawatiran kepada orang-orang terdekat.

Pembicara kedua adalah Ratna selaku Psikolog Puskesmas Kraton. Ratna banyak menyampaikan soal tugas-tugas seorang psikolog yang bekerja di puskesmas kraton. Ratna juga semakin mempertegas bahwa kita tidak bisa sembarangan memberikan label “orang gila” pada siapapun. Alangkah baiknya jika label tersebut diganti menjadi ODS (Orang dengan Schizofrenia) atau ODGJ (Orang dengan gangguan jiwa), sesuai dengan diagnosanya.

Perlu diketahui bahwa keluarga yang memiliki anggota keluarga yang terkena gangguan mental tidak bisa merawat secara mandiri, masih perlu bimbingan sekalipun sudah dibekali ilmu dari rumah sakit jiwa. Dikhawatirkan justru mengakibatkan gangguan juga bagi yang merawat karena pekerjaan seperti itu harus setiap hari. Dengan demikian, dibentuklah PAWITON (Paguyuban Wingking Kraton). Apa itu PAWITON? Istilah PAWITON muncul karena letak puskesmas kraton berada di belakang kraton.

Terdapat stigma “Jangan minum obat, nanti ketergantungan.” Stigma tersebut adalah salah. Bagi ODGJ, mengonsumsi obat merupakan hal penting. Obat dapat membantu ODGJ menjadi lebih baik dalam berpikir, berkomunikasi, semangat beraktivitas, dan beberapa hal-hal positif lain yang baik bagi mereka.

Sebagai pihak yang berniat baik dan ingin menunjukkan kepedulian terhadap sesama, alangkah baiknya kita menghindari stigma yang beredar di masyarakat dan seolah tidak dapat dihilangkan. Kita perlu belajar untuk meminimalkan komentar agar tidak terseret arus stigma di masyarakat karena jika telah menjadi mindset akan sulit dihilangkan. Sementara itu, apabila melihat orang yang butuh penanganan di jalan atau di tempat-tempat lain, segera laporkan ke dinas sosial agar hak-hak mereka segera terpenuhi.

Diskusi ini diakhiri pembacaan ikrar oleh seluruh panitia dan peserta diskusi, dipandu oleh MC. Berikut isi ikrar yang menggema di ruangan K-303. “Kami generasi muda Indonesia berjanji akan menjadi pelopor kesehatan mental dunia serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama demi Indonesia yang lebih sejahtera!” [Widi]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s