Opini / Suara Mahasiswa

Skizofriend: Sebuah Aksi Nyata dari Mahasiswa

Manusia adalah makhluk ekonomi yang senantiasa ingin memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu, manusia bekerja. Kebutuhan hidup yang semakin banyak, menuntut manusia bekerja lebih keras setiap harinya. Namun demikian, permasalahan tidak selesai begitu saja. Sering kali manusia menemui hambatan dan rintangan dalam menghadapi itu semua.

Tantangan hidup yang semakin lama semakin rumit sering kali membuat manusia merasa tertekan sehingga mengharuskan mereka untuk mengatasinya. Akan tetapi, beberapa orang kesulitan untuk melakukan hal itu. Beberapa faktornya antara lain: tidak adanya dukungan sosial, rendahnya kecerdasan emosional, serta kurang kuatnya fondasi spiritual. Bila hal ini terus dibiarkan, bisa saja mereka yang hidupnya terlalu tertekan akan mengidap gangguan mental akut seperti skizofrenia. Meskipun skizofrenia juga disebabkan oleh faktor genetik dan banyak faktor yang lain, namun faktor intensitas stres juga turut andil dalam menyebabkan penyakit ini.

Skizofrenia adalah sebuah gangguan psikotik merugikan yang bisa melibatkan karakteristik gangguan dalam berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), berbicara, emosi, dan perilaku (Durand & Barlow, 2013: 451). Thomas F. Oltzman dan Robert E. Emery (2012: 335) menjelaskan bahwa ada dua gejala yang dialami oleh orang dengan skizofrenia (ODS), yaitu gejala positif dan gejala negatif.

Lebih jauh, Oltzman dan Robert E. Emery (2012: 335) menjelaskan bahwa istilah gejala positif bukan berarti muncul sebagai perilaku-perilaku yang baik. Positif di sini artinya ada sesuatu yang lebih pada diri ODS, seperti halusinasi dan delusi. Halusinasi adalah pengalaman sensorik tanpa ada stimulus. Meskipun halusinasi bisa terjadi pada semua indra, tetapi indra yang paling sering mengalami halusinasi adalah pendengaran. Banyak ODS yang mendengar suara-suara yang memerintah mereka atau berkomentar negatif tentang perilaku mereka sedangkan delusi adalah keyakinan yang salah akibat dari kekeliruan dalam menyimpulkan kenyataan yang ada. Orang yang mengalami delusi tetap akan mempertahankan pendiriannya meski mereka sudah ditunjukkan bukti yang berlawanan dengan keyakinan mereka. Contoh delusi yang dialami adalah mengaku dirinya pangeran kerajaan, pemimpin dunia, dan lain sebagainya.

Sementara itu, untuk gejala negatif, Oltzman dan Robert E. Emery (2012: 337) menjelaskannya sebagai berkurangnya respon dan fungsi yang tampak dari perilaku seseorang.  Gejala negatif bisa berupa gangguan afektif dan emosi serta apati atau kelesuan. Gangguan afektif dan emosi bisa berupa kesulitan dalam mengungkapkan apa yang dirasakan entah itu senang atau sedih, sedangkan apati atau kelesuan biasanya berupa perilaku menarik diri dari kehidupan sosial.

Dewasa ini, Indonesia tengah mengalami darurat skizofrenia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, satu hingga 2 orang dari 1000 orang atau 1.7 per mil mengalami  gangguan jiwa berat, termasuk Skizofrenia. Dr. Eka Viora, Sp.KJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan, dari jumlah tersebut, sebagian besar belum berinisiatif atau berkesempatan mendapatkan pengobatan yang tepat (Sutriyanto, 2014).

Hal tersebut disebabkan oleh stigma yang ada di masyarakat terhadap orang dengan skizofrenia. David Pilgrim (2014: 167) menjelaskan bahwa stigma adalah konsekuensi sosial dari atribusi negatif terhadap seseorang berdasarkan stereotip. Ia menyebutkan ada tiga stereotip atau anggapan yang salah tentang orang dengan gangguan mental, yaitu inteligensi yang rendah, kemampuan bersosialisasi yang buruk, serta orang yang berbahaya.

Di Indonesia, masyarakat masih menganggap bahwa gangguan mental adalah sebuah aib. Akibatnya, keluarga yang memiliki ODS tidak berani terbuka dan membawanya ke tangan yang tepat, seperti psikolog atau psikiater. Untuk menutupi rasa malu, keluarga sering kali memasung atau bahkan mengucilkan ODS mereka, padahal gangguan mental adalah hal yang wajar dialami manusia. Sama halnya dengan penyakit fisik biasa, gangguan mental juga harus diobati.

Kurangnya pengetahuan juga membuat mereka menganggap bahwa gangguan mental adalah kutukan atau disebabkan oleh makhluk gaib. Dengan dmikian, banyak di antara mereka lebih memilih membawa ODS ke dukun. Padahal pengobatan ke dukun merupakan hal yang sia-sia sekaligus merugikan karena biaya untuk ke dukun umumnya lebih mahal daripada pengobatan modern.

Keadaan ini sangat memprihatinkan, mengingat ODS adalah orang sakit. Bukannya mendapatkan pengobatan, mereka malah dikucilkan dan mendapat penanganan yang salah, padahal seorang ODS butuh teman untuk memotivasi dan memahami kondisi mereka. Bila hal ini terus dibiarkan, kondisi kejiwaan ODS akan semakin parah dan semakin sulit disembuhkan. Dampaknya juga akan membebani masyarakat sendiri, karena ODS tidak bisa segera sembuh untuk bisa kembali produktif di masyarakat.

Sebagai mahasiswa psikologi, penulis menawarkan sebuah solusi yaitu dengan dibentuknya komunitas Skizofriend. Komunitas Skizofriend adalah sebuah perkumpulan berbasis mahasiswa yang peduli dengan ODS. Komunitas ini bertujuan untuk membantu para ODS mendapatkan hak-haknya untuk sembuh dan kembali produktif di masyarakat. Mahasiswa dipilih sebagai anggota, mengingat salah satu kewajibannya adalah untuk melakukan pengabdian masyarakat, namun tidak menutup kesempatan bagi masyarakat umum untuk bergabung. Seperti namanya, komunitas Skizofriend akan berusaha menjadi friend untuk para ODS. Oleh karena itu, ada beberapa program kerja yang dicanangkan, yaitu:

Pertama, melakukan sosialisasi tentang skizofrenia ke masyarakat. Materi yang disosialisasikan adalah informasi terkait skizofrenia, cara deteksi dini serta penanganan skizofrenia yang tepat, serta cara-cara menjaga para ODS agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Dengan diadakannya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat mengerti seputar penyakit skizofrenia serta cara menangani penderitanya.

Selanjutnya adalah membuat forum ODS di media sosial. Forum ini akan diisi oleh para ODS, orang yang peduli dengan ODS, serta psikolog dan psikiater yang sudah diajak kerjasama. Para anggota grup dapat melakukan tanya jawab seputar skizofrenia di dalam forum ini. Diharapkan forum ini dapat membuat para ODS terbuka dengan yang dialami, sehingga psikolog dan psikiater yang ada di sana juga dapat memberikan solusi.

Berikutnya yaitu dengan menyediakan konseling murah dengan psikolog klinis setiap seminggu sekali. Untuk menjaga kondisi ODS agar tetap stabil perlu konseling dengan psikolog klinis. Sayangnya banyak ODS dan care giver (orang yang merawat ODS) terhambat oleh masalah biaya. Oleh karena itu, program kerja ini dibuat. Dengan diadakannya program ini, diharapkan dapat membantu ODS agar tetap stabil kondisi kejiwaannya.

Untuk melatih ODS bisa produktif, Skizofriend juga akan mengadakan festival melukis ODS. Dalam kegiatan ini ODS akan dilatih dan diberi wadah untuk mengekspresikan jiwa seninya. Melalui hasil-hasil karya mereka, diharapkan masyarakat tidak lagi memandang ODS sebagai orang yang bodoh.

Terakhir ialah mengadakan lomba drama bertemakan Peduli Skizofrenia. Generasi muda sebagai generasi penerus juga harus mendapat pendidikan tentang penyakit skizofrenia. Lomba ini diadakan agar mereka tertarik mempelajari hal tersebut. Melalui lomba ini, generasi muda diharapkan lebih memahami dan menyerap nilai-nilai pentingnya peduli terhadap ODS.

Tentunya untuk bisa melakukan program-program di atas, Skizofriend akan melakukan penggalangan dana serta bekerja sama dengan institusi pemerintah. Penggalangan dana dapat melalui kegiatan wirausaha serta menggalang sumbangan dari masyarakat. Komunitas Skizofriend juga akan melakukan audiensi ke Dinas kesehatan. Dalam audiensi akan disampaikan permintaan bantuan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengobatan ODS.

Itulah beberapa program kerja yang akan dicanangkan komunitas Skizofriend, yaitu melakukan sosialisasi tentang skizofrenia ke masyarakat, membuat forum ODS di media sosial, menyediakan konseling murah dengan psikolog klinis setiap seminggu sekali, mengadakan festival melukis untuk ODS, mengadakan lomba drama bertemakan Peduli Skizofrenia, dan penggalangan dana. Melalui komunitas Skizofriend ini, para ODS diharap dapat memperoleh hak-haknya untuk bisa sembuh dan kembali produktif di masyarakat. Kesembuhan para ODS sangatlah penting karena mereka juga manusia yang merupakan aset bangsa. [Excel]

 

 

Daftar Pustaka

Durand, V. M., & Barlow, D. H. (2013). Essential of Abnormal Psychology. 6th Edition. Canada: Jon-David Hague.

Oltmans, T. O., & Robert E. Emery. (2012). Abnormal Psychology. 7th Edition. Uppersaddle River: Pearson.

Pilgrim, David. Key Concepts in Mental Helath. 3rd Edition. 2014. New Delhi: Sage.       

 

Daftar Laman

Sutriyanto, E. 2014. “Dua dari 1000 orang Indonesia Alami Gangguan Jiwa Berat”. http://www.tribunnews.com/kesehatan/2014/09/09/dua-dari-1000-orang-indonesia-alami-gangguan-jiwa-berat. Diakses pada 29 September 2015, pukul 15.50 WIB.

 

Sumber Gambar: http://www.liputan6.com/tag/orang-dengan-skizofrenia


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s