event / Hardnews

Memahami Indigo dalam Bingkai Psikologi

Image

“Apakah Anda senang menjadi anak indigo?” tanya moderator. “Tidak,” jawab Deri Marliyan dan Bety Ria Sersana sambil menggeleng bersama. Mereka adalah narasumber dalam acara Ceker (Cerita Keren) of the Day bertajuk Understanding Indigo. Selain anak indigo, kegiatan ini juga menghadirkan dua orang psikolog, Subandi dan Indriya Gamayanti sebagai pembicara. Acara yang bertempat di gedung G100 Fakultas Psikologi tersebut berlangsung pada Jumat, (15/11) lalu.

Sebagai pengantar, Subandi, Dosen Psikologi menerangkan indigo dilihat dari teori psikologi yang ada. Ia menjelaskan bahwa indigo merupakan representasi dari cakra mata ketiga, yaitu pusat energi aktivitas psikis yang terbuka lebar. Mereka dipercaya memiliki warna aura nila, ungu, atau biru. “Warna itu corak aura, bukan karakteristik psikologi,” tuturnya.

Pemeriksaan indigo, dapat melalui foto aura, pemeriksaan sidik jari, EEG, ataupun DNA. Istilah indigo baru ditemukan pada tahun 80-an, hingga saat ini belum banyak penelitian yang menerangkan indigo secara ilmiah. “Masih disebut pseudo science, konsepnya belum diterima secara umum,” tambahnya.

Menurut Subandi, anak indigo memiliki beberapa karakteristik, salah satunya adalah memiliki rasa keningratan dan sangat kreatif. Mereka juga memiliki kemauan yang kuat, mengandalkan intuisi, dan memiliki ingatan yang kuat. Rasa bosan dan tidak suka pada rutinitas ini terkadang membuatnya frustasi. “Mereka jadi dianggap tidak disiplin dan merusak sistem yang sudah ada sebelumnya,” ungkap Subandi.

Dilihat dari kacamata psikologi, indigo adalah kondisi psikologis unik yang perlu dipahami. Indriya Gamayanti, Psikolog RSUD Sardjito yang sering menangani klien indigo menerangkan bahwa kemampuan ini memiliki mekanisme yang sama dengan bakat. Orang indigo memiliki kemampuan lebih dalam mempersepsi hal-hal yang ada di sekitarnya, atau yang disebut Extra Sensory Perception (ESP). Hal tersebut yang membuat orang indigo seolah-olah dapat meramal dan melihat masa depan. “Misalnya, ketika seorang indigo mengatakan bahwa hujan akan turun. Itu karena ia memiliki kepekaan tinggi terhadap kelembapan udara, tiupan angin, dan sebagainya,” terangnya.

Lebih lanjut, Gamayanti menjelaskan bahwa ESP mengacu pada kemampuan mengirim dan menerima info tanpa menggunakan panca indera. Hal tersebut lebih dikenal dengan istilah indera keenam. “Seperti membaca pikiran atau perasaan, pada dasarnya menangkap gelombang. Semua orang punya kemampuan itu, hanya ada yang diasah, ada yang tidak,” imbuhnya.

Selain ESP, indigo memiliki beberapa kemampuan lain yang mungkin dimiliki. Gamayanti menerangkan bahwa beberapa indigo bisa mempengaruhi manusia atau memindahkan objek dengan pikirannya. “Namanya psikokinesis, ini mungkin seperti gelombang electromagnet yang tidak disadari,” ujarnya.

Gamayanti juga mengatakan bahwa kemampuan perseptual anak indigo memungkinkan mereka lebih peka terhadap makhluk yang tidak tertangkap oleh mata biasa. Beberapa indigo juga memiliki pengalaman yang berhubungan dengan kematian, seperti keluar dari tubuh, pengalaman reinkarnasi, dan sebagainya. Kemampuan ini yang membuat lingkungan tidak mampu memahami indigo dan membuat mereka kesulitan dalam adaptasi. Salah satu contohnya adalah kasus yang pernah ia tangani, yaitu seorang anak TK yang dianggap memukul temannya. “Anak itu bilang, ia memukul karena ingin mencegah setan merah mendekati temannya, namun orang lain akan mengatakan bahwa anak ini pembohong,” tuturnya.

Biasanya, untuk menangani kasus tersebut, Gamayanti akan melihat dinamika emosi anak indigo yang naik turun. Kemudian ia akan mencoba untuk memahamkan anak dan orang tuanya bahwa tidak semua orang bisa mengerti keadaan orang indigo. “Ajari untuk regulasi diri, lalu buat dia belajar untuk mampu mengkomunikasikan kemampuannya kepada orang lain,” terangnya.

Meski demikian, tidak semua indigo identik dengan pembuat onar. Sebagai indigo, Deri mengaku bahwa ia bisa mengetahui bagian tubuh manusia yang sedang sakit. “Jadinya saya bisa bantu untuk menyembuhkan orang,” ungkapnya. Kemampuan lain yang dimiliki indigo antara lain adalah mampu mempelajari sesuatu dengan cepat. Bety, salah seorang indigo mengatakan bahwa ia memiliki ketertarikan yang banyak dan bisa menguasainya dengan mudah. “Awalnya saya kira, semua orang mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Di sisi lain, kelebihan-kelebihan yang dimiliki indigo sempat mengganggu kehidupan Deri dan Bety. Deri mengaku terganggu karena ia sering diejek atau disindir oleh teman-temannya. “Konteksnya masih dianggap musrik, dukun,” tuturnya. Sementara itu, Bety merasa bahwa kemampuannya membuat ia harus mengetahui hal-hal yang ia tidak ingin ketahui. “Saya bisa tau perasaan dan pikiran orang lain. Misalnya orang lain tidak suka pada saya, atau punya rahasia yang tidak seharusnya saya tahu. Seperti hacker, meski tidak diinginkan,” ungkapnya.

Menurut Zahara Nur Azizah, ketua panitia, tema indigo dipilih untuk memberi perspektif baru dalam memahami fenomena. “Di sini kita ingin lihat indigo dari kacamata psikologi,” ujarnya. Salah seorang peserta, Sarah, berpendapat bahwa acara ini sangat baik karena membuka wawasan terhadap hal yang cukup tabu seperti indigo. Ia berharap, acara ini dapat berlanjut menjadi pengetahuan yang terbuka. “Semoga tidak hanya disini, tapi bisa untuk riset baru juga,” ujarnya. Zahara berharap bahwa dengan adanya pembahasan ini, seseorang bisa lebih berhati-hati dalam menilai seseorang. “Jangan terlalu mudah mengatai orang indigo sebagai abnormal,” tutupnya. [Shiane]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s